Jumat

Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular

Terjemahan oleh: Misran 
Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.

Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang (kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat.

“Kek,” panggil ular itu benar-benar memelas, “kakek kan terkenal suka menolong. Tolonglah saya, selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya itu. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. Tentunya, kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. Demi Allah dan demi ayah kakek, saya mohon, kabulkanlah permintaan saya ini.”

“Ulangi sumpahmu sekali lagi,” pinta si kakek. “Takutnya, setelah mulutku kubuka, kamu masuk ke dalamnya dan selamat, budi baikku kamu balas dengan keculasan. Setelah selamat, jangan-jangan kamu malah mencelakai saya.”

Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.

Sejurus kemudian, datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, pria itu pun pergi.

Setelah pria itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara kepada ular: “Kini, kamu aman. Keluarlah dari mulutku, agar aku dapat pergi sekarang.”

Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit, lalu berujar: “Hmm, kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik, bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik, mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. Padahal, kamu tak tahu apa-apa. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati.”

“Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan. Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.” Kontan ular itu mengancam.

“La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.

Kakek itu akhirnya kembali bersuara, “Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku.”

Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, “Oh, andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.”

Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, ia berujar pada sang ular: “Sekarang, silakan lakukanlah keinginanmu. Laksanakanlah rencanamu. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan.”

Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya:
“Wahai Kakek yang baik budi, penyantun dan pemurah. Wahai orang yang baik rekam jejaknya, ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu, sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali. Cobalah engkau pandang pohon ini. Ambil daunnnya beberapa lembar lalu makan. Moga Allah sentiasa membantumu.”

Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar, “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?”

Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. Suara itu berujar, “Saya tahu kamu dizalimi, maka atas izin Zat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri (Allah) saya datang menyelamatkanmu.”

Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.”

Di akhir ceritanya, si Saudi berpesan:
“Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu, ia pasti dapat mengganggumu. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat.”

Kemudian si Saudi memelukku dan memeluk anakku. Pada istriku dia mengucapkan selamat tinggal. Ia berangkat meninggalkan kami. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya kami karena berpisah dengannya. Kami menyadari sepenuhnya perannya dalam menyelamatkan kami dari lumpur kemiskinan sehingga menjadi kaya-raya.

Namun, belum beberapa hari dia pergi, aku sudah mulai berubah. Satu persatu nasehatnya kuabaikan. Hikmah-hikmah Sulaiman dan pesan-pesannya mulai kulupakan. Aku mulai menenggelamkan diri dalam lautan maksiat, bersenang-senang dan mabuk-mabukan. Aku menjadi suka menghambur-hamburkan uang.

Akibatnya, para tetangga menjadi cemburu. Mereka iri melihat hartaku yang begitu banyak. Mengingat mereka tidak tahu sumber pendapatanku, mereka lalu mengadukanku kepada kepala kampung. Kepala kampung memanggilku dan menanyakan dari mana asal kekayaanku. Dia juga memintaku untuk membayarkan uang dalam jumlah yang cukup besar sebagai pajak, tetapi aku menolak. Ia memaksaku untuk mematuhi perintahnya seraya menebar ancaman.

Setelah membayar begitu banyak sehingga yang tersisa dari hartaku tak seberapa, suatu kali bayaranku berkurang dari biasanya. Dia pun marah dan menyuruh orang untuk mencambukku. Kemudian ia menjebloskan aku ke penjara. Sudah tiga tahun lamanya saya mendekam di penjara ini, merasakan berbagai aneka penyiksaan. Tak sedetikpun saya lewatkan kecuali saya meminta kepada Zat yang menghamparkan bumi ini dan menjadikan langit begitu tinggi agar segera melepaskan saya dari penjara yang gelap ini dan memulangkan saya pada isteri dan anak-anak saya.

Namun, tentu saja, saya takkan dapat keluar tanpa budi baik dari Baginda Rasyid, Baginda yang agung dan menghukum dengan penuh pertimbangan.

Khalifah menjadi terkejut dan sedih mendengar ceritanya. Khalifah pun memerintahkan agar ia dibebaskan dan dibekali sedikit uang pengganti dari kerugian yang telah ia derita dan kehinaan yang dialaminya. Ia pun memanjatkan doa dengan khusyu kepada Allah, satu-satunya Dzat yang disembah, agar Khalifah Amirul Mukminin senantiasa bermarwah dan berbahagia, selama matahari masih terbit dan selama burung masih berkicau.

Para napi di penjara Baghdad semakin banyak mendoakan agar Khalifah berumur panjang setelah Khalifah meninggalkan harta yang cukup banyak buat mereka.

Khalifah lalu kembali ke istananya yang terletak di pinggir sungai Tigris. Di istana telah menunggu siti Zubaidah. Khalifah lalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya, Zubaidah pun senang mendengarnya. Ia mengucapkan terima kasih dan memuji Khalifah karena telah berbuat baik. Zubaidah juga mendoakan agar Khalifah panjang umur.

Sumber: Mansur, Affandi Wahbah (Penerjemah). tt. Alfu Yaum wa Yaum. Mesir: Dar al-Hilal. hal 38-40.
Diterjemahkan kembali oleh Misran

Selasa

Tugas Biografi SMK N 1 SMANSID (A.H Nasution)

Jendral Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918, Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.


Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.

Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.

Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.

Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya
melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.

Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).

Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).

Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD.

Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.

Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan”.?

Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.

Biodata Jendral Abdul Haris Nasution

Nama: Abdul Haris Nasution
Pangkat: Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal: Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri: Ny Johanna Sunarti

Pendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (1938)
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
= Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karir :
= Guru di Bengkulu (1938)
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)

Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080

Tugas Biografi SMK N 1 SMANSID (Ki Hadjar Dewantar)

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.


Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.


Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.


Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.

Kemudian setelah ditolaknya pendaftaran status badan hukum Indische Partij ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi:

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".

Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.

Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.

Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.

Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.

Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.

Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

Minggu

Tugas Agama SMANSID 4

Biografi Ibnu Bawwab
Ibnu Bawwab yang nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali ibn Hilal, adalah anak seorang penjaga pintu istana Baghdad, namun ada yang mengatakan bahwa ia adalah putra seorang kuli. Bawwab berarti penjaga pintu. Ia dikenal juga sebagai al-sitri. Ia menjalani kehidupan yang lebih tentram, tetapi sejarah hidupnya dapat menjelaskan tentang posisi kaligrafi dalam berbagai cara. Ia memulai kariernya sebagai dekorator yang menghias rumah dengan gambar-gambar, kemudian melanjutkannya dengan menghias buku-buku dengan aneka gambar, dan akhirnya membuat kaligrafi. Tak diragukan lagi bahwa hal ini berarti ia berhasil meningkatkan kariernya pada bentuk seni yang lebih tinggi. Pada suatu saat ia diangkat sebagai seorang mubaligh Masjid Mansur di Baghdad, sebuah posisi yang berbeda dengan penceramah pada sholat Jum’at (khatib).
Pada suatu saat Ibnu Bawwab mengurus perpustakaan Baha’ Al-Daula di Syiraz dan ia sendiri menceritakan sekelumit kisah berikut ini dari sana yang dilaporkan oleh Yaqut: suatu hari dalam tumpukan buku-buku yang telah disisihkan, ia menemukan sebuah buku bersampul hitam yang ternyata merupakan bagian dari Al-Qur’an tiga puluh jilid yang ditulis oleh Ibnu Muqlah. Buku ini menimbulkan kekaguman yang luar biasa. Di perpustakaan tersebut berhasil ditemukan dua puluh sembilan jilid, tetapi satu jilid masih belum ditemukan. Ketika ia menyampaikan berita ini kepada Baha’ Al-Daula yang disebut terakhir ini kemudian memerintahkan untuk melengkapi karya tersebut. Ibnu Bawwab menawarkan diri untuk menuliskan jilid yang hilang itu dengan syarat ia mendapatkan jubah kehormatan dan uang seratus dinar jika jilid baru yang ditulisnya tidak dapat dibedakan dengan jilid-jilid lain. Syarat itu diterima, lalu Ibnu Bawwab mencari beberapa kertas tua yang diperkirakan sama dengan kertas jilid yang hilang itu dengan baik dan dibuat agar tampak usang, kemudian dijilid dengan sampul tua yang diambil dari buku lain.
Ketika Baha’ Al-Daula menanyakan hal itu setahun kemudian, ia melihat tiga puluh jilid dibawa kehadapannya dan menelitinya dengan cermat sebelum mengambil satu jilid yang baru ditulis, kemudian ia menganggap bahwa semuanya merupakan karya Ibnu Muqlah. Ibnu Bawwab tidak menerima bayaran yang telah disetujui, tetapi permohonannya untuk memiliki seluruh potongan kertas Cina yang ada di perpustakaan, yang cukup untuk keperluan beberapa tahun dikabulkan. Konon ada dua jenis kertas di perpustakaan itu yaitu kertas Samarkand dan kertas Cina.
Kisah itu menyiratkan bahwa tulisan Ibnu Bawwab tidak jauh berbeda dengan tulisan Ibnu Muqlah yang menjadi pedomannya dalam menulis. Kita tidak mengetahui apa perbedaan yang ada diantara mereka, tetapi biografi beberapa orang di abad kedua belas dan ketiga belas menyatakan bahwa mereka mengikuti metode Ibnu Muqlah dan Ibnu Bawwab. Seseorang mengatakan bahwa ia memakai metode Ibnu Muqlah untuk menulis buku-buku dan metode Ibnu Bawwab untuk menulis surat-surat. Tulisan kedua ahli kaligrafi tersebut sangat diminati oleh para kolektor dan mendapat harga yang tinggi.
Yaqut menceritakan sebuah surat yang terdiri dari sembilan puluh baris berisikan hal-hal sepele yang ditulis oleh tangan Ibnu Bawwab telah terjual dengan harga tujuh belas dinar dan kemudian dijual lagi dengan harga dua puluh lima dinar. Semangat para kolektor itu menyebabkan adanya pemalsuan. Kita telah melihat bahwa beberapa pabrik kertas juga menginstruksikan untuk menciptakan kertas kuno buatan. Hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa Ibnu Bawwab sendiri memalsu karya seorang maestro yang terdahulu. Yaqut menceritakan tentang seorang kaligrafi abad ketiga belas yang membeli selembar tulisan Ibnu Bawwab dengan harga empat puluh dinar. Dia menyalinkannya diatas kertas usang dan memberikan salinan tersebut kepada seorang penjual buku yang menjualnya sebagai tulisan Ibnu Bawwab dengan harga enam puluh dinar.
Ibnu Bawwab adalah penulis kaligrafi hafal al-Qur’an dan menulis 64 mushaf. Salah satunya, yang ditulis dengan gay Raihani, disimpan di masjid Leleli di Istanbul. Ia penemu dan pengembang gaya tulisan Raihani dan Muhaqqaq. Al-Bawwab yang berhasil membentuk mazhab kaligrafi di Baghdad, meninggal tahun 1022 M dan dimakamkan di dekat makam Imam Ahmad ibn Hanbal. Tidak diketahui tanggal kelahirannya.
Pada masa mudanya, Ibnu Bawwab belajar kaligrafi pada Muhammad ibn Asad, kemudian Muhammad ibn al-Simsimani, murid Ibnu Muqlah. Dalam karir kaligrafinya ia lebih dikenal sebagai penerus dan pengembang prestasi Ibnu Muqlah. Dialah yang menambah makna pekerjaan yang telah dirintis pendahulunya itu. Bentuk baru yang penuh keindahan ini kemudian dikenal dengan al-Mansub al-Faiq (huruf standar yang indah). Meskipun al-Bawwab yang pada mulanya dikenal sebagai dekorator rumah (house painter) dan ilustrator buku, namun ia lebih menonjol dalam mengembangkan dan mempercantik keenam gaya tulisan yang ada saat itu (al-aqlam al-sittah). Perhatiannya terutama dicurahkan pada gaya Naskhi dan Muhaqqaq yang secara ideal selaras dengan kejeniusannya. Ibnu Bawwab mendirikan sekolah kaligrafi yang dikenal sampai masa Yaqut al-Musta’shimi. Meskipun ia banyak berkarya, namun kini hanya beberapa saja yang dapat terdokumentasi. Dua halaman al-Qur’annya, berukuran 17,5 x 13,5 cm bertahun 1001 M, kini tersimpan di perpustakaan Chester Beatty, Dublin Irlandia.

Tugas Agama SMANSID 3

biografi

Seorang anak yang telah diklaim menggoreskan sejarah (seni) Islam telah lahir pada tahu 272 H, di Baghdad. Al-Wazir Abu Ali al-Shadr Muhammad bin al-Hasan ibnu Muqlah, yang digelari ‘Si Biji Anak Mata’.Sebenarnya  Muqlah adalah nama bapaknya, dengan tradisi Arab memanggil seorang anak dengan ‘anak si fulan’, maka dipanggillah ia dengan Ibnu Muqlah. Namun, kasih sayang sang kakek kepadanya berlebihan, ia selalu dipanggil dengan sebutan “ ya muqlata abiihaa!” (wahai biji mata ayahnya).
Ia seorang jenius, menguasai ilmu dasar geometri membawa berkah dengan sematan “Imam Khatthathin” (Bapak para kaligrafer) baginya. Inilah akar utama penemuan kaligrafi cursif.
Ibnu Muqlah bekerja di bebearapa kantor pemerintahan dengan menyumbangkan keahliannya di berbagai bidang ilmu, termasuk kaligrafi. Dengan kekhasannya itulah karirnya menanjak tajam dengan menjadi salah satu wazir untuk tiga orang khalifah Abbasiyyah, antara lain khalifah Muqtadir, al-Qahir, al-Radi. Berkat keuletan dan hubungan sosial dengan sesama pejabat lain, ia menjadi orang yang terpandang.
Agaknya sudah menjadi tradisi jika seorang pejabat ternama dan memiliki kredibilitas yang baik, mengalami banyak tekanan dari berbagai oknum yang curang dalam sistem pemerintahan. Begitu juga yang dialami oleh Ibnu Muqlah. Berbagai intrik kecurangan dalam sistem pemerintahan mengakibatkan dia mengalami penindasan yang sangat sadis. Penganiayaan tepatnya.
Ibnu Muqlah pada mulanya bekerja sebagai pemungut pajak pemerintah sekaligus mengatur anggaran pengeluarannya. Hingga keadaan membalik ketika ia mejabat sebagai pejabat bawaan al-Imami al-Muqtadi Billah pada 316H. Ia difitnah oelh musunya dan hartanya disita, sementara ia dibuang ke Persia. Namun pada akhirnya ia malah menjadi pembantu al-Radi, maka musuhnya kembali mencemarkan anama baiknya hingga ia ditangkap lagi dan dicopot dari jabatan kementrian.
Ia mencoba mendekati Ibnu Raiq, perdana menteri di Baghdad, seorang pejabat dibawah khalifah yang naif itu. Namun, khalifah tidak bisa menutup-nutupi rahasianya bahkan membusukkan namanya di hadapan Ibnu Raiq. Maka ditangkaplah Ibnu Muqlah dan dipotong tangannya.
Akhirnya al-Radi pun menyesal atas sikapnya sendiri dan menyuruh para dokter untuk mengobati luka tangannya yang buntung hingga pulih.
Dalam keadaan seperti itu, Ibnu Muqlah menggoreskan pena dengan tangan kanannya. Tradisi menulis dan akademis terus dijalaninya sebagaimana biasa. Namun, Ibnu Raiq sadar akan sikap baiknya, bahwa tindakan welas asihnya itu membuat Ibnu Muqlah dapat menyaingi kekuasaannya kembali, ketika Ibnu Muqlah memohon kepadanya untuk duduk kembali di kementrian.
Kesadisan Ibnu Muqlah kumat lagi, dengan memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Ibnu Muqlah, memotong lidahnya, dan memenjarakannya hingga akhir hayat pada tahun 328 H/ 940 M. Ia dikuburkan di rumah sultan.
Mendengar kejadian itu, keluarganay menuntut pada kerajaan agar jenazahnya dikembalikan kepada keluarga, dan permintaan itu dipenuhi.
Segala kepedihan Ibnu Muqlah telah digoreskan dalam tiap-tiap bait syairnya, dengan artinya sebagai berikut:
Pabila setengahnya hapus nyawa,Menagislah sisanya
Sebab satu sama lain,Akrab senantiasa
Bukan ku tlah muak hidup di dunia
Tapi, terlanjur dipercaya sumpah mereka
Maka, cerailah tangan kananku tercinta
Kujual kepada mereka agamaku
Dengan duniaku
Namun, mereka halau aku dari dunia mereka
Setelah mereka gasak agamaku
Kugoreskan kalam sekuat upayaku
Tuk melindungi nafas-nafas mereka
Duhai malangnya… Bukannya mereka melindungiku!
Tiada nikmat dalam hidup ini
Sesudah senjata tangan kananku pergi tiada arti
Duh, hayatku nan malang
Tangan kananku tla hilang
Hilanglah, segala arti tergusur hilang.
Dengan pengorbanan yang besar, Ibnu Muqlah berhasil menggoreskan sejarah tertinggi yang besar nan suci yang tak pernah hilang dari peradaban manusia. Khususnya peradaban tulis-menulis kaligrafi di kalangan kaligrafer dunia. Kita pantas mendoakan beliau sebelum mulai belajar kaligrafi.
Keberhasilan Ibnu Muqlah dalam merumuskan desain kursif kaligrafi murni diakui sangat bagus secara teoritis bahkan praktek, pada masa itu hingga sekarang. Hingga, dalam waktu singkat mampu menggeser popularitas khat Kufi yang telah lama mengakar dalam peradaban masa itu (sebelum 328 H/ 940 M).
Tidak itu saja, demi menjaga kesempurnaan dan elektibilitas karya  kaligrafi, seorang kaligrafer hendaknya memenuhi 4 husnul wadh’i (susunan yang baik) dan 5 kriteria penulisan yang sempurna sebagai dasar penulisan kaidah kaligrafi

Tugas Agama SMANSID 2

SUMBANGAN INTELEKTUAL ISLAM DALAM SENI
 oleh
Zulkifli Hasan dan Hanani Harun1


ABSTRAK
Kesenian Islam telah mencapai tahap yang amat tinggi ketika era kegemilangan empayar
Islam  ketika dahulu. Malahan  sememangnya  tidak boleh dinafikan bahawa  sebahagian
besar  cabang  kesenian  yang  ada  pada  hari  ini  adalah  sumbangan  awal  dari  para
ilmuwan Islam. Fakta ini diperkukuhkan dengan nukilan sejarah yang merekodkan para
intelektual Islam yang  telah menghasilkan kerja seni yang  luar biasa mutunya malahan
kekal hingga kini sama ada dari aspek seni seperti seni khat, seni bina, seni muzik, dan
juga  seni  sastera. Artikel  ini akan melihat bagaimana  sumbangan mereka  ini  terhadap
perkembangan seni pada era mereka dan dunia hari ini.

PENDAHULUAN

  Keagungan empayar Islam satu ketika dahulu telah memberikan sumbangan yang
amat  besar  di  dalam  pembentukan  sejarah  ketamadunan  manusia.  Di  antara  ciri-ciri
keagungan  yang  telah dicapai oleh umat  Islam pada zaman kegemilangan mereka  ialah
kemajuan  yang  tinggi  dalam  bidang  ilmu  pengetahuan. Kemajuan  sains  dalam  sejarah
kebangkitan ilmu dalam Islam telah melahirkan tokoh-tokoh ternama yang sangat ramai.
Antaranya ialah al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Farabi, al-Biruni dan sebagainya. Mereka ini
beserta  ramai  lagi  tokoh  ilmu  yang  lain  telah  meninggalkan  kesan  yang  besar  dalam
kemajuan ilmu pengetahuan bagi manusia sejagat. 

Di dalam artikel  ini penulis akan mengupas  tentang sumbangan  intelektual  Islam dalam
seni  berdasarkan  kepada  jenis-jenis  seni,  tokoh-tokoh  intelektual  Islam  dan  sumbangan
mereka terhadap seni tersebut. Intelektual menurut Kamus Dewan bermaksud mana-mana
orang  yang mempunyai dua ciri utama  iaitu  terpelajar, cerdik pandai, cendekiawan dan
mempunyai kemampuan yang  tinggi untuk berfikir dengan menggunakan akal budi  (ms
457  Kamus  Dewan,  1991). Manakala  seni  pula  memberi  erti  halus,  elok,  tipis,  enak
didengar, comel dan merupakan karya yang diciptakan dengan bakat ataupun kecekapan
                                                
1
 Pensyarah Fakulti Syariah dan Undang-undang, Universiti Sains Islam Malaysia dan Pegawai
Perkhidmatan Pendidikan Siswazah, Kementerian Pelajaran Malaysia. 
2
hasil daripada  sesuatu  ciptaan  (ms. 1169, Kamus Dewan, 1991).   Di  sini, penulis  akan
membincangkan tentang sumbangan-sumbangan para ilmuwan Islam dalam pelbagai seni
seperti seni khat, seni bina, seni muzik, dan juga seni sastera. 

(a)  SENI BINA

  Seni  bina  merupakan  di  antara  bentuk-bentuk  seni  yang  terdapat  pada  sesuatu
tamadun. Menurut Ab. Alim dan Syed  Idrus  (1995),  seni bina bermaksud  “satu bidang
seni untuk mendirikan bangunan,  reka bentuk dan  reka  letak  yang dibina oleh manusia
untuk digunakan oleh manusia”. Ibn Khaldun (dalam Mahayudin, 2004) pula berpendapat
bahawa seni bina merupakan satu daripada ciri-ciri ketamadunan yang penting kerana ia
merupakan lambang atau mercu tanda kegemilangan sesuatu bangsa atau negara.

Pencapaian dan pembangunan seni bina telah bermula sejak zaman Rasulullah Sallallahu
Alaihi Wasallam  (SAW)  lagi.  Ini  dapat  dilihat menerusi  pembinaan Masjid Quba’  dan
Masjid  Nabawi  (Mahayudin,  2004).  Pada  zaman  pemerintahan  Khulafa’  al-Rashidin,
terutamanya zaman Khalifah ‘Umar al-Khattab, perkembangan seni bina dianggap paling
berjaya kerana beliau amat mengambil berat tentang pembaharuan dalam pelbagai bidang
khususnya pembinaan masjid.

Pada  zaman  Kerajaan  Bani  Umayyah  dan  Bani  Abbasiyyah,  khalifah-khalifah  yang
memerintah telah banyak memberi sumbangan penting dalam pencapaian seni bina Islam.
Di antaranya ialah:

Khalifah al-Walid bin ‘Abdul Malik (86-87H)

Semasa  pemerintahan  Khalifah  al-Walid,  Masjid  Suriah  di  Damsyik  yang  dahulunya
merupakan  sebuah gereja masyarakat Kristian berbangsa Yunani  telah diperbaharui dan
dibangunkan  semula  (Mahayudin,  2004).  Menurut  pengarang  ini  lagi,  pada  zaman
pemerintahan  beliaulah  bermulanya  pembinaan  unsur-unsur  bangunan  masjid  secara
lengkap seperti mihrab, mimbar, menara, selain tiang dan dinding serta atap.   3

Khalifah  al-Walid  banyak  menyumbang  ke  arah  kemajuan  seni  bina  Islam  semasa
pemerintahannya  sehingga  beliau  digelar  ‘Pembina  Agung  Kerajaan  Bani  Umayyah’
(Mahayudin,  2004).  Beliau  telah membina  pejabat-pejabat  kerajaan  dan  juga  beberapa
bangunan  bagi  mengindahkan  kota  Damsyik  dan  memulihara  Masjid  Nabawi  di
Madinah, Masjid  al-Haram  di Makkah  dan Masjid  al-’Aqsa  di Bayt  al-Maqdis. Beliau
juga telah menyempurnakan pembinaan batu di Bayt al-Maqdis iaitu Qubbah al-Sakhrah.
(Mahayudin, 2004).

Khalid bin ‘Abdullah al-Qasri

Beliau  merupakan  gabenor  kepada  Khalifah  Hisham  bin  ‘Abd  al-Malik.  Menurut
Mahayudin  (2004),  beliau  telah  berjaya  membina  parit-parit  dan  tali  air  dalam  usaha
menyiapkan projek pertanian yang dirancang oleh Khalifah Hisham bin Abd al-Malik.

Khalifah Abdul Rahman II

Di antara  sumbangan Khalifah Abdul Rahman  II dalam aspek  seni bina  ialah membuat
projek membina menara-menara lampu di beberapa pelabuhan untuk memudahkan kapal-
kapal perdagangan berlabuh di pantai-pantai Andalus (Mahayudin, 2004).

Khalifah Abu Ja’far al-Mansur 

Nama  penuh  beliau  ialah Abu  Jaafar Abdullah  bin Muhammad  bin Ali  al-Abbas  telah
dilahirkan di 101H di al-Hamimah (Mohd Mokhtar, 1993). Hasan Ibrahim (dalam Mohd
Mokhtar, 1993) menyatakan bahawa beliau merupakan khalifah Abbasiyah  yang kedua
selepas Abu al-Abbas al-Saffah. Beliau telah mendirikan sebuah istana yang bernama al-
Khuldi di pinggir Sungai Dajlah. Rekabentuk  istana  ini sangat  indah dan kedudukannya
yang  strategik  telah  menyebabkan  beliau  menamakannya  ’Qasr  al-Khuldi’  yang
bermaksud  istana abadi. Beliau  juga  telah membina Masjid Jami’ al-Mansur di hadapan   4
Istana al-Zahab yang mana merupakan masjid yang tertua di Kota Baghdad (Mahayudin,
2004).

Khalifah al-Mahdi

Khalifah  al-Mahdi  ialah  khalifah  yang  ketiga  dalam  khalifah-khalifah  Bani Abbasiyah
peringkat  pertama  (Mohd  Mokhtar,  1993).  Beliau  telah  membina  Istana  al-Salam  di
Isabaz dan Masjid Jami’ al-Rishafah pada tahun 157H (Mahayudin, 2004).

Khalifah al-Ma’mun

Universiti Nizamiyyah merupakan  pusat  pengajian  tinggi  formal  yang  ditubuhkan  oleh
Khalifah al-Ma’mun di zaman pemerintahannya. Penubuhan universiti ini telah memberi
peluang  yang  besar  kepada  orang  ramai  untuk menimba  ilmu  di  peringkat  yang  lebih
tinggi  (Mahayudin, 2004).  Imam Abu Hanifah,  Imam Shafii,  Imam Malik, al-Kindi, al-
Farabi,  Abu  Bakar  al-Razi  dan  Ibn  Sina  adalah  antara  tokoh-tokoh  intelektual  yang
pernah menuntut di universiti bersejarah ini.

Beliau telah membina Bayt al-Hikmah yang merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan
yang  terbesar  terletak di Baghdad (Mahayudin, 2004). Pelbagai aktiviti penulisan karya-
karya  ilmiah dan  juga  aktiviti penterjemahan buku ke dalam bahasa Arab dijalankan di
kutub  khanah  ini.  Beliau  juga  telah  memperkembangkan  bidang  astronomi  dengan
membina  pusat  astronomi  di Syamsiyah,  berhampiran Kota Baghdad  untuk mengawasi
pergerakan bintang (Mahayudin, 2004). Kesan daripada penubuhan ini ahli-ahli geografi
Islam telah berjaya membuktikan bahawa dunia ini bulat yang mengandungi 360 darjah.

Ibrahim al-Farazi

Beliau merupakan seorang ahli geografi Islam yang telah membuat banyak kajian. Beliau
telah  berjaya  mencipta  astrolab  yang  digunakan  oleh  ahli  pelayaran  sehingga  kini
(Mahayudin, 2004).   5

Sultan Malik Syah

Sultan Malik  Syah  telah membina Balai Cerap  (Observatori)  untuk  kegunaan  ahli-ahli
astronomi mengadakan  persidangan. Di Balai  cerap  inilah Kalendar  Parsi  diperbaharui
(Mahayudin, 2004).

(b)  SENI MUZIK

Muzik boleh ditakrifkan sebagai bunyi yang menghasilkan bentuk dan irama yang
indah dan menyenangkan  (Mahayudin, 2004). Bangsa Yunani dikatakan  perintis dalam
bidang  seni  muzik.  Namun  begitu  setelah  kedatangan  Islam,  orang-orang  Islam  telah
memajukannya.  Perkembangan  seni  muzik  berlaku  pesat  pada  zaman  pemerintahan
Kerajaan Abbasiyah di mana kebolehan menyanyi dan bermain alat muzik dijadikan pra
syarat  untuk  diterima  bekerja  (Mohd Mokhtar,  1993). Kesannya,  lahirlah  ramai  tokoh-
tokoh terkemuka yang arif dalam bidang muzik seperti al-Farabi dan al-Kindi.

Al-Farabi

Nama  sebenar  al-Farabi  ialah  Abu  Nasr  Muhammad  Ibn  Muhammad  Ibn  Tarkhan
(Haliza,  2006).  Beliau  dilahirkan  pada  260  Hijrah  (874  Masihi)  di  Khurasan,  Turki.
Beliau  banyak menyumbang  dari  segi  pemikiran  serta  penghasilan  buku  dalam  bidang
falsafah, mantik, sosiologi, sains dan muzik. 

Di dalam seni muzik, al-Farabi merupakan seorang pemuzik yang handal dan  lagu hasil
karya  beliau  meninggalkan  kesan  secara  langsung  kepada  pendengarnya.  Selain
mempunyai  kemampuan  bermain  alat muzik,  beliau  juga  berjaya mencipta  sejenis  alat
muzik yang dikenali sebagai gambus (Umar, 1983). Mahayudin (2004) pula menyatakan
bahawa  al-Farabi  adalah  pencipta  dan  pengembang  seni muzik  daripada  alat  rabah  dan
qanun.
   6
Al-Farabi  turut  menghasilkan  sebuah  buku  yang  mengandungi  pengajaran  dan  teori
muzik Islam yang diberi judul al-Musiqa (Haliza, 2006, Mahayudin, 2004, Abd Alim dan
Syed  Idrus, 1995). Menurut Mahayudin  (2004), beliau  juga  terkenal menerusi karyanya
yang  diterjemahkan  bertajuk  Grand  Book  on  Music,  Styles  in  Music  dan  On  The
Classification  of  Rhythm.  Buku-buku  ini  sebenarnya  diterjemahkan  daripada  karya
bahasa  Arab  dan menjadi  rujukan  penting  di  Eropah.  Selain  itu,  beliau  juga memberi
sumbangan yang besar dalam penciptaan not-not muzik.

Al-Kindi

Nama sebenar al-Kindi ialah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq al-Kindi.  Beliau dilahirkan di
Kufah  sekitar  tahun  800  Masihi  (Dipetik  di  http://www.muslimheritage.htm).  Beliau
merupakan  seorang  yang  pakar  dalam  bidang  muzik  dan  banyak menghasilkan  buku-
buku mengenai  teori-teori muzik. Banyak karyanya  telah diterjemahkan kepada bahasa-
bahasa Eropah antaranya, Essentials of Knowledge  in Music, On The Melodies dan The
Necessary Book in the Composition of Melodies (Mahayudin, 2004).  

Al-Kindi  juga  telah  berjaya  menemui  pelbagai  not  muzik  yang  mana  apabila
digabungkan akan menghasilkan harmoni. Mengikut beliau, nada-nada suara yang terlalu
rendah  dan  terlalu  tinggi  adalah  tidak  seimbang  dan  tidak  menyenangkan  (Dipetik  di
http://www.muslimphilosophy.com). Al-Kindi juga berpendapat bahawa muzik termasuk
dalam  disiplin  ilmu  sains,  di  samping  turut  berhubung  rapat  dengan  matematik  dan
memberi kesan terhadap kesihatan (Mahmood Zuhdi, 2003).

Muhyiddin Ibn Arabi

Beliau  merupakan  seorang  ahli  muzik  Islam  yang  terkenal.  Karya-karyanya  banyak
berkisar  tentang  alat-alat  muzik  (Mahayudin,  2004).  Di  dalam  bukunya  beliau
menerangkan bahawa Islam mencadangkan agar seni muzik dipertingkatkan.

   7
Safi al-Din Abd al-Mu’min

Beliau merupakan orang yang pertama  sekali membina  sekolah muzik. Malahan, beliau
turut  menghasilkan  beberapa  karya  muzik  menerusi  Syarifiya  dan  Modus  Muzik
(Mahayudin,  2004). Beliau  turut  digelar  ’Father  of Music’  oleh  ahli muzik Barat  yang
mengagumi hasil karya seninya.

Shams al-Din Muhammad bin Safi al-Din

Beliau adalah anak kepada Safi al-Din yang  juga merupakan pakar dalam bidang muzik
yang  terkenal.  Terdapat  buku-buku  hasil  ciptaannya  yang  diterjemahkan  seperti  The
Jewels of Arrangement in the Knowledge of the Melodies (Mahayudin, 2004).

Al-Isfahani

Beliau merupakan seorang yang pakar dalam seni muzik. Hasil karya beliau yang begitu
terkenal  ialah al-Aghani dan  telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropah dengan nama
The Grand Book of Songs yang mengandungi 21 jilid (Mahayudin, 2004).

Khalil bin Ahmad

Beliau  ialah  orang  yang  pertama  berjaya  menghasilkan  kamus  muzik  yang  telah
diterjemahkan  bertajuk  The  Book  Notes  dan  The  Book  of  Rhythm  (Mahayudin,  2004).
Hasil  karya  beliau  ini  telah  dijadikan  sebagai  buku  teks  rujukan  bagi  pelajar-pelajar
universiti di Sepanyol (Mahayudin, 2004).

Al-Urmawi

Nama  sebenar  beliau  ialah  Abd  al-Mu’min  Ibn  Yusuf  Ibn  Fakhir  (Dipetik  di
http://www.muslimheritage.com). Beliau dilahirkan pada tahun 1230 Masihi. Al-Urmawi   8
begitu dikenali kerana beliau merupakan seorang pembuat biola dan juga ahli muzik pada
zaman Khalifah al-Musta’sim.

Berdasarkan  fakta-fakta di atas dapat disimpulkan bahawa orang-orang  Islam bukannya
mencedok  ilmu muzik  daripada masyarakat Yunani  tetapi  telah  terbukti mereka  begitu
kreatif dalam penghasilan karya muzik yang tersendiri.

(c)  SENI KHAT DAN KALIGRAFI

Seni  khat merupakan  satu  seni  yang  berkembang  seiring  dengan  perkembangan
bidang  seni  yang  lain  terutama  sekali  seni  ukiran.  Hal  ini  diperakui  oleh  kebanyakan
penulis  buku  Tamadun  Islam  (Ghazali,  2001,  Ab.  Alim  dan  Syed  Idrus,  1995,
Mahayudin, 2004, Kamil al-Baba, 1992). Seni khat ialah satu seni yang berkaitan dengan
tulisan. Syeikh Shams  al-Din  al-Akfani  (dalam Mahayudin, 2004) menjelaskan bahawa
seni  khat  atau  kaligrafi  adalah  satu  ilmu  yang  memperkenalkan  bentuk-bentuk  huruf-
huruf  tunggal,  letaknya dan cara-cara merangkainya menjadi  tulisan yang  tersusun  atau
apa-apa yang ditulis di atas garis-garis bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana
yang  tidak  perlu  ditulis;  menggubah  ejaan  yang  perlu  digubah  dan  menentukan  cara
bagaimana untuk menggubahnya. 

Terdapat banyak khat yang digunakan oleh orang Islam seperti khat kufi, nasakh, thuluth,
rayhan, muhaqqaq, tawqi’, riq’ah, diwan, ijazah, parisi, diwan jali, ta’liq, nasta’liq, dan
sebagainya  (Kamil  al-Baba,  1992).  Terdapat  sumber  mengatakan  bahawa  khat  yang
tertua  ialah  khat  kufi  (Mahayudin,  2004, Ab.  Alim  dan  Syed  Idrus,  1995  dan  Seyyed
Hossein Nasr,  1987). Di  antara  tokoh-tokoh  ilmuwan  yang  terkenal  dalam  bidang  seni
khat dan kaligrafi ialah Ibn Muqlah, Ibn Bawwab dan juga Yaqut al-Musta’simi.

Ibn Muqlah

Nama  sebenar  beliau  ialah Abu Ali Muhammad  Ibn Ali  Ibn Muqlah  (Kamil  al-Baba,
1992). Beliau dilahirkan di Baghdad dalam  tahun 886 Masihi merupakan di antara ahli   9
kaligrafi yang masyhur di zaman pemerintahan Bani Abbasiyyah.  Ibn Muqlah dianggap
sebagai  pencipta  tulisan  khat  naskhi  yang  menggantikan  tempat  khat  kufi  dalam
keseragaman kaligrafi Islam (Kamil al-Baba, 1992). 

Beliau  telah  memperkenalkan  khat  al-Mansub  (proportional  script)  di  dalam  sejarah
kaligrafi  Islam.  Di  dalam  khat  ini,  beliau  telah menetapkan  satu  sistem  ukuran  dalam
menulis  satu-satu  huruf. Misalnya  huruf  alif  ditulis  berpandukan  titik-titik  (3,  5  atau  7
titik) (Kamil al-Baba, 1992).  

Ibn Bawwab

Ibn Bawwab  ialah Abu  al-Hassan Ali  Ibn Hilal  Ibn  al-Bawwab  dilahirkan  di Baghdad
(Seyyed Hossein Nasr, 1987). Beliau digelar Ibn Bawwab kerana ayahnya adalah seorang
jurukunci  (bawwab) Dar  al-Qada’  (bilik  pengadilan)  di Baghdad.  Semenjak  kecil  lagi
beliau  telah mempelajari  ilmu  khat  dengan Muhammad  Ibn Asad  dan Muhammad  al-
Simsimani (Kamil al-Baba, 1992).

Beliau  yang merupakan  ahli  kaligrafi  pada  zaman  Bani  Abbasiyyah  dianggap  sebagai
pencipta  kepada  khat  rayhani  dan  muhaqqaq  (dipetik  di  http://www.muslim.org).
Terdapat sebanyak 64 buah al-Qur’an ditulis oleh Ibn Bawwab yang mana salah satunya
ditulis dengan khat rayhani (Kamil al-Baba, 1992).

Yaqut al-Musta’simi

Nama  sebenar  beliau  ialah  Syekh  Jamaluddin  Yaqut  al-Musta’simi  al-Thawusyi  al-
Baghdadi  (Kamil  al-Baba,  1992).  Selain  daripada  menjadi  ketua  di  Perpustakaan  al-
Mustansyiriyyah, beliau  juga dikenali sebagai budayawan dan ahli pujangga. Tulisannya
dikatakan lebih cantik daripada Ibn Muqlah dan Ibn Bawwab.
   10
Beliau pernah digelar sebagai Qiblat al-Kuttab yang bermaksud kiblat para penulis khat
Kamil al-Baba, 1992). Beliau juga dikatakan pengasas kepada ”Sittah”enam jenis tulisan
yang terkenal ketika itu (Ghazali, 2001).

(d)  SENI SASTERA

Kesusasteraan  Islam bermula  sejak dari  turunnya wahyu dari Allah Subahanahu
Wataala  (SWT)  yang  terakhir  iaitu  kitab  al-Qur’an  al-Karim.  Al-Qur’an  merupakan
sebesar-besar mukjizat bagi umat  Islam. Menurut Mustafa Haji Daud  (1991), al-Qur’an
itu  ialah  sumber  kesusasteraan  Islam  yang  dapat  dilihat  dari  dua  aspek  iaitu  keindahan
bahasa dan dari segi isi. Maka tiada sesiapapun yang dapat menandingi keindahan bahasa
yang terkandung dalam al-Qur’an.

Terdapat  ramai  tokoh-tokoh  ilmuwan  Islam  yang  memberi  sumbangan  yang  besar  di
dalam  seni  sastera  Islam. Karya-karya  seperti The Arabian Night, Ali Baba and  the 40
Thieves,  Sinbad  the  Sailor,  dan Aladin  and  the Magic  Lamp  begitu  popular  hingga  ke
negara-negara Barat. Di antara intelektual Islam yang terkenal dalam seni sastera ialah:

Firdawsi

Firdawsi  amat  terkenal  melalui  hasil  karyanya  yang  berjudul  Hikayat  1001  Malam
(dipetik  di  http://www.muslimphilosophy.com). Ceritanya  telah  banyak memberi  kesan
kepada masyarakat  Islam  dan  tidak  ketinggalan  juga  orang-orang Barat  sehinggakan  ia
telah  diterjemahkan  ke  dalam  beratus-ratus  bahasa.  Beliau  juga  menghasilkan  karya
bertajuk Shah Nameh  yang  turut diterjemahkan ke dalam bahasa  Inggeris dengan  judul
Epic Kings (Ghazali, 2001). 

Ibn Tufayl

Nama sebenar beliau ialah Abu Bakr Muhammad Ibn Abd al-Malik Ibn Muhammad Ibn
Muhammad  Ibn Tufayl  al-Qaysi  (dipetik di http://www.muslimheritage.com). Di dalam   11
karyanya,  beliau  menceritakan  tentang  bagaimana  seseorang  mencapai  fasa
perkembangan  yang  tinggi  sekali  tanpa  bantuan  apa-apa  daripada  orang  lain  atau  dari
alam  sekitarnya  (Hasan,  1971).  Ibn  Tufayl  dengan  karyanya  Hayy  Ibn  Yaqzan  yang
mengungkapkan  bahawa manusia  boleh mengenal  Tuhan  tanpa  wahyu  dan  guru  telah
mempengaruhi pemikiran orang Eropah. Karya  ini  telah diterjemahkan ke bahasa Latin
oleh Roger Bacon dan diterbitkan bersama-sama  teks Arab di Oxford pada  tahun 1671
(Dipetik di http://www.members.tripod.com/man 999/  sumbangan_Islam_2.htm). Orang
Eropah  bukan  setakat  menterjemah  malahan  mereka  juga  menghayatinya  melalui
penciptaan kisah-kisah berdasarkan idea yang dikemukakan dalam buku tersebut. Antara
kisah tersebut ialah Crusoe yang dihasilkan pada abad ke 18 (Hasan, 1971).

Omar Khayyam

Omar Khayyam  juga  terkenal sebagai seorang penyair yang hebat di zamannya. Malah,
beliau pernah menjadi terkenal di kalangan dunia Barat sejak tahun 1839 apabila Edward
Fitzgerald menerbitkan  terjemahan Bahasa  Inggeris bagi bukunya, Rubayyat  (Dipetik di
http://www.tutor.com.my/tutor) . Buku ini menggambarkan kehebatan dan kekayaan ilmu
yang dimilikinya. Sumbangan beliau sebagai ahli falsafah banyak meletakkan asas dalam
tamadun keilmuan manusia sejagat.

Abu al-Sult Ibn Abdul Aziz

Antara  sarjana  Islam  yang  terkemuka  di  Andalus  pada  abad  keenam  hijriyyah
termasuklah  Abu  al-Sult  Umaiyah  Ibn  Abdul  Aziz  Ibn  Abi  al-Sulf  (Mahmood  Zuhdi,
2003). Beliau dilahirkan di Daniat, Andalus Timur pada tahun 459 H (1067 M) (Ibn Abi
Usaiba’ah,  1965). Beliau  banyak menggubah  syair-syair  puji-pujian  kepada  raja  untuk
mencari rezeki. Selain antologi-antologi syair, beliau juga menghasilkan karya berkenaan
dengan sastera iaitu al-Mulah al-Asriyah, Hadiqah al-Adab, dan al-Risalah al-Misriyyah
(Ibn Abi Usaiba’ah, 1965).

Ibn Bajjah   12

Beliau  ialah  Abu  Bakr Muhammad  Ibn Yahya  al-Sa’igh  dilahirkan  di  Saragossa  pada
tahun 457 H  (1082 M)  (Mahmood Zuhdi, 2003). Beliau merupakan seorang sasterawan
yang unggul, ahli bahasa dan seorang hafiz al-Qur’an. Beliau menghasilkan karya seperti
Risalah al-Wida’, al-Risalah al-Ittisal dan al-Madinah al-Fadilah (Umar Furrukh, 1983).

KESIMPULAN

  Berdasarkan  fakta  yang dinyatakan di atas,  sememangnya  telah  terbukti bahawa
tamadun  Islam  telah memberikan sumbangan yang amat besar melalui  intelektual  Islam
di  dalam  perkembangan  sebahagian  besar  cabang  seni  yang wujud  pada  hari  ini.  Pada
hakikatnya Islam tidak pernah menolak kesenian malahan menerapkan unsur-unsur murni
yang menjadi teras kepada setiap cabang seni iaitu Tauhid bersesuaian dengan peredaran
zaman.  Jelas menunjukkan  bahawa  perkembangan  seni  sama  ada  seni  khat,  seni  bina,
seni  sastera mahupun  seni muzik  telah  pun  dibangunkan  awal-awal  lagi  oleh  ilmuwan
Islam.  Buktinya  ramai  pencinta  seni  dari  barat  mempelajari  dan  mengkaji  hasil  seni
ilmuwan  Islam  dan  seterusnya  menggunakan  pengetahuan  itu  untuk  menjadi  teras
kebangkitan ketamadunan mereka.  Malahan pembangunan ilmu dalam dunia Islam telah
diakui  sebagai  pemangkin  kepada  Zaman  Renaissance  atau  Pembaharuan  di  Eropah
(Azhar et.al, 2002)  yang akhirnya melahirkan satu tamadun yang gemilang di sana.

Generasi pada hari ini sepatutnya merasa bangga dengan sumbangan ilmuwan Islam yang
begitu besar terhadap peradaban dan tamadun manusia malahan mereka perlu mempunyai
semangat dan  iltizam untuk mengulangi keagungan  tahap pencapaian  ilmu pengetahuan
intelektual  Islam  satu masa  dahulu.  Apa  yang  membantu  kejayaan  umat  Islam  dalam
bidang-bidang  ilmu  seperti  ini  ialah  Islam  itu  sendiri  yang bersikap  terbuka dan positif
terhadap  ilmu  pengetahuan.  Malahan  al-Qur’an  juga  sentiasa  menggesa  umat  Islam
supaya  berfikir  dan  meneliti  tentang  manusia  dan  alam  Adalah  menjadi  aspirasi  dan
impian  kita  untuk menyaksikan  suatu  hari  nanti  sejarah  keagungan  umat  Islam  seperti
dahulu akan kembali berulang.   13
RUJUKAN

Buku

Azhar, M.A., Azharudin, M.D., Suffian, M. & Zulkanain, A.R. (2002). Tamadun
Islam dan tamadun Asia. (2nd
 ed.). Kuala Lumpur: Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
 Ab. Alim, A. R. & Syed Idrus, S. M. (1995). Tamadun Islam. Kuala Lumpur:
Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Ghazali, D. (2001). Sumbangan sarjana dalam tamadun Islam. Kuala Lumpur:
Utusan Publications and Distributors Sdn. Bhd.
  Hasan, L. (1987). Pendidikan Islam: satu analisa sosio psikologikal. (t.t.):
Pustaka Antara.
Kamil, B. (1983). Dinamika kaligrafi Islam. (Terjemahan: Sirojuddin, A. R.
(1992)). Jakarta: Dar al-‘Ulum Press.
Mahayudin, Y. (2004). Tamadun Islam. Shah Alam: Penerbit Fajar Bakti Sdn.
Bhd. 
Mohd Mokhtar, S. (1993). Sejarah keagungan kerajaan Islam. Kuala Lumpur:
Nurin Enterprise. 
 Seyyed Hossein Nasr. (1987). Spiritualitas dan seni Islam. (Terjemahan: Sutejo.
(1992)) Bandung: Penerbit Mizan.

Suratkhabar
Haliza, H. Al-Farabi. Berita Harian. Februari 27, 2006.

Internet

http://www.muslimheritage.com
http://www.muslimphilosophy.com
http://www.tutor.com.my/tutor
http://www.members.tripod.com/man999/sumbangan_Islam_2.htm

biografi Ibnu Sina

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.


Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian;

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.



Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.



Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.



Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.



Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.



Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.



Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”



Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.



Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.



Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.



Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.



Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.